Pontianak — Ketua DPC GMNI Pontianak, Fajar, menyoroti kondisi internal GMNI Kalimantan Barat yang hingga saat ini belum menemukan titik temu dalam agenda persatuan organisasi di tingkat daerah. Menurutnya, kondisi tersebut tidak boleh terus dibiarkan karena hanya akan memperlemah peran organisasi di tengah berbagai persoalan rakyat yang semakin kompleks.
Bung Fajar menegaskan bahwa semangat persatuan yang telah dicontohkan oleh DPP GMNI melalui agenda rekonsiliasi nasional harus segera selesai pula di tingkatan daerah khususnya Kalimantan Barat. Ia menilai bahwa ego sektoral dan kepentingan kelompok tidak boleh mengalahkan kepentingan besar organisasi dan perjuangan rakyat.
“DPP GMNI telah memberikan contoh politik persatuan dan rekonsiliasi nasional. Sangat disayangkan apabila di tingkat daerah justru masih terjadi kebuntuan yang membuat organisasi kehilangan fokus terhadap agenda perjuangan rakyat,” tegas Bung Fajar.
DPC GMNI Pontianak juga mendesak DPD GMNI Kalimantan Barat agar segera melaksanakan rekonsiliasi persatuan daerah sebagaimana amanah rekonsiliasi nasional di Bali. Menurutnya, persatuan organisasi merupakan kebutuhan mendesak agar GMNI dapat kembali hadir sebagai kekuatan moral dan intelektual dalam merespons persoalan daerah.
Lebih jauh, Bung Fajar mengkritisi situasi sosial dan ekonomi di Kalimantan Barat yang dinilainya semakin memprihatinkan namun belum mendapat perhatian serius dari berbagai elemen, termasuk organisasi kemahasiswaan. Ia menyinggung persoalan meningkatnya kesenjangan ekonomi, sulitnya lapangan pekerjaan bagi generasi muda, persoalan pendidikan, hingga kondisi masyarakat kecil yang terus menghadapi tekanan ekonomi.
“Hari ini masyarakat sedang menghadapi tekanan hidup yang nyata. Harga kebutuhan pokok tidak stabil, lapangan pekerjaan semakin sulit, angka kemiskinan dan ketimpangan sosial masih menjadi persoalan serius. Belum lagi persoalan pendidikan dan kesejahteraan masyarakat di daerah-daerah yang masih tertinggal. Dalam situasi seperti ini, GMNI sebagai organisasi perjuangan seharusnya hadir di garis depan perjuangan rakyat, dan tidak terus menerus terjebak didalam konflik internal,” ujarnya.
Ia juga menilai bahwa organisasi kader seperti GMNI memiliki tanggung jawab historis untuk menjadi pelopor gerakan sosial yang berpihak kepada rakyat kecil atau yang disebut marhaen. Karena itu, konsolidasi persatuan organisasi harus segera dituntaskan agar perjuangan ideologis dan kerja-kerja kerakyatan dapat kembali dijalankan secara maksimal.
“GMNI lahir dari rahim perjuangan rakyat. Maka orientasi utama organisasi harus tetap berpijak pada persoalan rakyat. Persatuan bukan hanya kebutuhan politik organisasi, tetapi syarat utama agar GMNI mampu memenangkan marhaen dan menjawab tantangan sosial dan ekonomi masyarakat Kalimantan Barat hari ini,” tutup Bung Fajar.(Sabirin)

Social Header