Breaking News

OJK Dorong Generasi Muda Pahami Peluang dan Risiko Tokenisasi Aset Digital

SURABAYA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk memahami peluang dan risiko tokenisasi aset nyata atau Real World Assets (RWA) di tengah pesatnya perkembangan inovasi keuangan digital di Indonesia.

Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Digital Financial Literacy (DFL) 2026 bertema “Dari Aset Nyata ke Aset Digital, Kenalan dengan Tokenisasi dan Peluang di Indonesia” yang digelar di Universitas Airlangga (UNAIR), Surabaya, Senin (12/10/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, sebagai pembicara dalam kuliah umum yang membahas perkembangan teknologi keuangan serta pentingnya kesiapan masyarakat menghadapi transformasi digital.

Adi menegaskan bahwa perkembangan inovasi keuangan digital harus diimbangi dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan regulasi, serta kemampuan mengelola risiko agar manfaat teknologi dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat.

Menurutnya, pemanfaatan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence), Big Data, komputasi awan (Cloud Computing), dan teknologi buku besar terdistribusi (Distributed Ledger Technology/DLT) membuka peluang besar dalam pengembangan produk dan layanan keuangan.

Namun, inovasi tersebut tetap membutuhkan tata kelola yang baik, keamanan teknologi, kepastian hukum, dan pelindungan konsumen.

Tokenisasi Aset Nyata Buka Peluang Ekonomi Baru

Salah satu pembahasan utama dalam DFL 2026 adalah tokenisasi aset nyata atau RWA, yakni proses merepresentasikan aset nyata maupun hak ekonomi yang berkaitan dengan aset tersebut dalam bentuk digital melalui teknologi tertentu, termasuk DLT.

Tokenisasi berpotensi meningkatkan efisiensi transaksi, memperluas akses terhadap instrumen keuangan, serta membuka alternatif pembiayaan dan mendukung pendalaman pasar keuangan.

Adi menyampaikan bahwa sejumlah model inovasi tokenisasi di Indonesia telah mengikuti mekanisme Sandbox OJK, di antaranya tokenisasi emas, surat utang negara, dan manfaat properti.

“Indonesia memiliki peluang yang sangat besar dalam pengembangan inovasi keuangan digital. Perkembangan ini menunjukkan besarnya peluang yang dapat kita manfaatkan melalui kolaborasi untuk mendukung pengembangan sektor keuangan dan perekonomian Indonesia,” ujar Adi.

Meski demikian, ia menekankan bahwa pengembangan tokenisasi harus disertai kejelasan hak dan kewajiban para pihak, transparansi informasi, keamanan sistem, serta kepastian hukum atas aset yang mendasari token.

Melalui mekanisme Sandbox, OJK memfasilitasi pengujian inovasi teknologi sektor keuangan dengan memperhatikan aspek regulasi, pengelolaan risiko, dan pelindungan konsumen sebelum inovasi tersebut dikembangkan lebih luas.

Mahasiswa Diingatkan Waspada Investasi Digital

Selain memperkenalkan peluang inovasi, OJK mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah tergiur oleh penawaran investasi aset digital yang menjanjikan keuntungan besar dalam waktu singkat.

Adi menegaskan pentingnya prinsip “legal dan logis” sebelum seseorang memutuskan untuk berinvestasi.

“Pastikan produk dan penyelenggaranya memiliki legalitas yang jelas serta jangan mudah tergiur dengan penawaran keuntungan yang tidak masuk akal. Lakukan riset secara mandiri, pahami risikonya, dan jangan mengambil keputusan investasi hanya karena mengikuti orang lain atau takut tertinggal tren (FOMO),” tegasnya.

Menurut Adi, literasi keuangan digital menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk memilah informasi, memahami karakteristik produk, dan mengambil keputusan keuangan secara bijaksana.

Ia juga mendorong mahasiswa membangun kebiasaan mengelola keuangan sejak dini melalui kegiatan menabung dan berinvestasi sesuai kebutuhan, kemampuan finansial, serta profil risiko masing-masing.

Perkuat Kolaborasi Perguruan Tinggi dan Industri

Kegiatan DFL 2026 turut menghadirkan diskusi panel bersama perwakilan OJK, Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, Kementerian Komunikasi dan Digital, Indonesia Fintech Society (IFSoc), Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI), serta pelaku industri.

Diskusi tersebut membahas perkembangan tokenisasi RWA, pemanfaatan teknologi blockchain, peluang pengembangan di Indonesia, hingga tantangan dalam membangun ekosistem keuangan digital yang aman dan terpercaya.

Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia UNAIR, Ardianto, menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membekali mahasiswa dengan pemahaman mengenai perkembangan teknologi dan inovasi keuangan digital.

“Perguruan tinggi tidak sekadar berperan sebagai ruang transfer pengetahuan, tetapi juga benteng dalam membangun kesadaran kritis mahasiswa,” kata Ardianto.

Sementara itu, Pelaksana Harian Kepala OJK Provinsi Jawa Timur, Asep Hikayat, menilai Surabaya memiliki potensi besar dalam mendukung pengembangan literasi dan inklusi keuangan digital. Posisi Surabaya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, pendidikan, dan inovasi menjadi modal penting dalam memperkuat ekosistem tersebut.

Diikuti Sekitar 700 Peserta

DFL 2026 dilaksanakan secara hibrida dan diikuti sekitar 700 peserta secara daring maupun luring. Peserta terdiri atas sivitas akademika UNAIR serta mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Surabaya.

Melalui kegiatan ini, OJK berharap mahasiswa dapat menggali peluang riset, kewirausahaan, pengembangan solusi teknologi, serta karier di industri keuangan digital, termasuk bidang blockchain dan tokenisasi aset nyata.

OJK menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat literasi keuangan digital melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi, asosiasi industri, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan.

Dengan pemahaman yang memadai mengenai peluang, risiko, legalitas, dan pelindungan konsumen, generasi muda diharapkan mampu memanfaatkan inovasi keuangan digital secara bertanggung jawab sekaligus berkontribusi terhadap perkembangan ekonomi Indonesia.(Sabirin)

© Copyright 2022 - KALBAR UPDATE. id